BUKU-BUKU: Kami (Bukan) Jongos Berdasi – J.S.Khairen

Sinopsis

Alumni Kampus UDEL kini telah lulus. Masuk ke dunia nyata yang penuh tikus. Ada yang bertahan, ada yang sebentar lagi mampus.

Kerja di Bank EEK? Ada. Kerjanya pindah terus? Ada. Bimbang ikut keinginan orangtua atau ikut kata hati? Ada. Apalagi pengangguran banyak acara, pasti ada. Namun, diam-diam ada juga karirnya lancar, gajinya mekar, dan jodohnya gempar menggelegar.

Mendapat intimidasi dari rekan kerja, lingkungan, dan keluarga itu sudah biasa. Mendapat cemoohan bagi yang ingin berkarya, jelas jauh lebih biasa. Menerima perlakuan semena-mena, hingga tertawaan dan hinaan adalah sarapan pagi.

Akankah mereka bertahan di dunia yang penuh instrik ini? Atau mereka harus jadi jongos berdasi, pura-pura mampu beradaptasi, dengan tantangan dunia yang terus gonta-ganti?

Review

Kembali lagi membahas novel seri Kami (Bukan) ini. Buku pertama ternyata sukses membuat penasaran para pembaca dengan lanjutan nasib dari enam mahasiswa ini. Tidak butuh waktu yang sangat lama menjawab rasa penasaran pembacanya, akhirnya penulis J.S.Khairen kembali merilis buku sekuel kedua yang berjudul Kami (Bukan) Jongos Berdasi.

Jongos? Mungkin sebagian orang sudah tidak asing lagi dengan kata jongos. Saya sendiri baru pertama kali tahu setelah melihat novel ini. Saya pun sempat menjelajahi internet untuk mengetahui arti jongos. Berdasarkan yang saya temukan di internet, kata jongos ini merupakan kata yang sering sekali digunakan pada masa kolonial Belanda di Indonesia. Menurut KBBI, jongos berarti laki-laki pembantu rumah tangga sedangkan menurut W.J.S Poerwadarminta berarti orang gajian, bujang1. Baru baca judulnya saja sudah dapat pengetahuan baru.

Jika buku pertama asik membahas permasalahan dunia pendidikan terkhusus suka duka kehidupan kuliah. Maka buku kedua ini membahas jenjang selanjutnya yaitu permasalahan dunia pekerjaan setelah sarjana. Suka duka dunia kerja yang akan dijalani oleh tujuh karakter dari novel sebelumnya. Novel ini sangat ringan untuk dibaca dengan cerita sederhana yang realistis. Alur cerita masing-masing tokoh sesuai dengan permasalahan yang kebanyakan masyarakat bangsa ini alami, apalagi dalam hal memulai pekerjaan dan yang sudah bekerja. Mulai dari Sania yang bekerja di bank EEK tetapi masih berusaha mengejar mimpinya menjadi seorang penyanyi. Juwisa dengan impiannya untuk bisa melanjutkan kuliah S2 di luar negeri. Arko yang asik berkeliling dunia sebagai freelancer fotografer tetapi masih dihantui dengan skripsinya yang belum juga selesai. Gala si anak orang kaya berusaha menjalankan impiannya sembari mengurus keluarga barunya. Randi sang wartawan dengan keahlian berita clickbaitnya lumayan cuan dan mempunyai impian menikah tetapi selalu gagal dalam hal percintaan. Ogi yang dulunya di DO dari kampus UDEL sekarang berhasil dengan pekerjaannya di Alphabet Inc Silicon Valley. Dan yang terakhir, Bu Lira mantan dosen kelompok Ogi dkk ini pun bermasalah dengan mimpinya dan kembali bingung dengan pekerjaannya saat ini. Nah, apakah kalian memiliki cerita yang relate dengan kawan-kawan Ogi?

Novel ini saking relate dengan kehidupan sehari-hari membuat kita senyum-senyum sendiri ketika membacanya. Belum lagi dengan kata-kata bijak yang selalu ditunggu-tunggu setiap bab. Seperti biasa, buku kedua pun tidak lupa menyuguhkan kata-kata bijak yang keren dan penuh makna dan tentunya berhasil membuat baper. Pantas saja penulis dijuluki sebagai Jenderal Kata-Kata.

Bagian cover sendiri hampir semua sama dengan buku pertama. Perbedaannya hanya terletak pada warna saja. Buku pertama dengan sampul yang berwarna kuning, kemudian novel ini berikutnya berwarna merah. Sesuai dengan kisah novel sebelumnya, ilustrasi menggambarkan seseorang menggunakan toga. Sedangkan pada novel ini menggunakan dasi karena memang membahas soal dunia kerja. Simple but elegant, selain itu punya khasnya sendiri. Sehingga membuat buku ini mudah untuk dikenali.

Salah satu hal yang unik dari novel ini adalah penggunaan bahasanya yang gaul abis, sangat ajigijaw dan gempar menggelegar dari buku pertama. Mulai dari nama institusi yang agak gimana gitu bacanya (Bank EEK), kata-kata gaul yang jarang digunakan seperti ajigijaw dan lain-lain. Penggunaan kata-kata unik tersebut yang membuat buku ini berwarna dan mudah diingat dan dikenal oleh pembaca.

Buku sekuel ketiga sudah terbit dengan judul “Kami Bukan Generasi Bac*t” dan saya sudah tidak sabar dengan kisah mereka selanjutnya.

2021 Bersama Superhero MCU

unsplash.com

Memulai mencoba menonton satu film superhero Marvel tahun lalu sepertinya membuat saya menjadi salah satu penikmat Marvel Cinematic Universe. Awalnya hanya disarankan adik mencoba nonton satu film, eh kemudian lanjut lagi menonton semua film sampai Avenger: End Game. Ketagihan juga jadinya hehe. Apa yang membuat saya tertarik menonton film Marvel? Ada beberapa alasan mengapa saya mulai menyukai Marvel, film-film dari Marvel tersebut memiliki konsep yang berbeda. Dalam satu film itu mereka tidak hanya fokus pada kisah masing-masing superhero, tetapi mengaitkannya dengan film Marvel yang lain. Layaknya permainan teka-teki, penonton dibuat berpikir dengan setiap cerita yang saling berkaitan. Saya suka dengan penyusunan cerita setiap filmnya yang saling berkaitan tersebut, seperti jika film MCU itu dunia nyata. Di dalam satu film itu pasti ada beberapa hint dari sekuel film yang akan dirilis selanjutnya, hal inilah yang membuat saya ketagihan untuk mengulik apa sih sebenarnya yang terjadi di dunia superhero Marvel ini. Penonton dibuat penasaran dan menebak-nebak hingga menciptakan berbagai teori setelah menonton satu film, dan menjadi tidak sabar ingin menonton sekuelnya.

Tahun 2021 menjadi tahun bagi penggemar MCU yang akan dimanjakan dengan rilisnya beberapa film dan seri superhero Marvel. Berikut ini daftar film dan serial yang akan rilis tahun ini.

WandaVision

Kisah sepasang kekasih dari tim Avengers, Wanda si Scarlet Witch dan Vision si Robot Android ini menyita perhatian sehingga Marvel membuat serial khusus dengan jumlah sembilan episode. Kisah cinta kedua pasangan superhero Marvel dalam serial ini akan menggambarkan kehidupan normal rumah tangga. Jika mengingat beberapa film Avengers sebelumnya, kedua karakter ini terkesan seriu dan dingin ketika berbicara. Tetapi dalam serial ini penulis sepertinya ingin mereka dibuat lebih humoris dengan mengangkat konsep sitkom lintas zaman yaitu dari 1950 – sekarang. Unik.

The Falcon and The Winter Soldier

Belum usai euforia dari couple Avengers,Wanda Vision. Marvel kembali mengeluarkan serial untuk pasangan superhero The Falcon and The Winter Soldier. Kisah sahabat dari Steve Rogers (Captain America) yaitu Sam dan Bucky yang membuat saya gemas dengan kelakuan mereka yang selalu beradu argumen ketika berhadapan dengan misi superhero tetapi tetap solid. Layaknya sepasang sejoli yang saling benci tapi enggan mengakui jika saling suka. Hahaha. Seperti biasa Marvel dikenal dengan unsur komedinya, melalui serial ini aksi Sam dan Bucky membuat kita tegang sekaligus tertawa. Selain itu, ada beberapa kejutan salah satunya yaitu munculnya Captain Amerika yang baru. What?!

Loki

Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Loki! Loki yang dikenal dengan sifat licik, pengkhianat, dan selalu berbohong. Awal mula jengkel dengan karakter Loki, tetapi setelah menonton Thor: The Dark World saya mulai jatuh cinta dengan karakter ini. Hihi. Loki ini bikin gemas dengan tingkah lakunya yang bandel, kadang ia baik dan ingin membantu tetapi jika penyakitnya yang bikin kacau kambuh lagi, bisa gawat. Walaupun banyak menimbulkan kekacauan akibat kecemburuannya dengan sang kakak, Thor. Loki juga bisa solid memerangi kejahatan bersama Thor. Saya sudah penasaran dan tidak sabar dengan kisah petualangan Loki dengan waktu, dan memperbaiki kesalahan yang dibuatnya.

Black Widow

Hampir 10 tahun Natasha Romanoff (Black Widow) berada di Marvel Cinematic Universe. Tahun 2021, Marvel akhirnya merilis film solo untuk karakter Natasha Romanoff yang masuk pada fase 4 MCU. Saya mulai suka karakter Natasha (Black Widow) ketika melihat setiap adegannya saat bertarung. Setiap melihat aksinya saya jadi kepengen jago bertarung seperti Natasha. >_< Hihi. Belum lagi stylenya yang keren mulai gaya rambut dan kostumnya. Tidak sabar melihat kilas balik kehidupan Natasha di film ini, begitu juga dengan aksi dari Florence Pugh dan David Harbour. I can’t wait to see it!

Sang Chi and the Legend of the Ten Rings

Marvel memperkenalkan karakter baru tahun ini yaitu superhero Asia pertama di MCU, Sang Chi and the Legend of the Ten Rings. Ketika Marvel merilis poster Sang Chi and the Legend of the Ten Rings, saya mengingat sesuatu. Jung! Yap, tidak salah lagi dia Jung di sitkom Kim’s Convenience. Wah wah, ternyata Jung berubah profesi nih pengen jadi superhero dan gabung di Avengers. Bulan lalu, Marvel telah mengeluarkan trailer film ini. Awkwafina juga bakal ikut main di film ini, kalau ada ini mah pasti lucu.

Ms. Marvel

Setelah Sang Chi sebagai superhero Asia pertama di MCU, Marvel pun memperkenalkan superhero muslim pertama melalui serial berjudul Ms.Marvel. Mm menarik, superhero wanita muslim pertama. Sosok Kamala Khan berkebangsaan Pakistan-Amerika ini pun menggeser Peter Parker sebagai superhero termuda di MCU. Ia adalah penggemar berat Captain Marvel, maka dari itu ia menamakan dirinya Ms.Marvel. Saya jadi penasaran seperti apa kisah petualangan Kamala Khan menjadi Ms.Marvel.

Eternals

Beberapa hari yang lalu, Marvel merilis trailer dari film Eternals. Setelah melihat trailernya saya belum paham siapakah itu Eternals dan dari mana mereka berasal, itu karena saya bukanlah pembaca komik Marvel sehingga masih bingung dengan munculnya Eternals di MCU. Mungkin bagi pembaca komik Marvel sudah mengetahui jenis superhero yang diperkenalkan di MCU tahun ini. Anggota Eternals ini banyak ada 10 orang. Banyak juga yah.

Hawkeye

Hawkeye! Pemanah andalan Avengers. Akhirnya Marvel pun membuatkan serial solo untuk Clint Barton (hawkeye). Pada serial ini Marvel memperkenalkan Hailee Steinfield yang berperan sebagai Kate Bishop yaitu murid dari Hawkeye. Hmm bagaimanakah alur cerita Hawkeye? Saya jadi penasaran bagaimana kelanjutan kehidupan Clint Barton setelah Avengers: End Game. Begitupun dengan kemunculan Kate Bishop di serial ini.

Spiderman: No Way Home

Bongo La, Bongo Cha Cha Cha

Jika mendengar lagu ini, sekilas mengingat film Spiderman: Far From Home. Nah, akhir tahun ini Marvel berencana mengeluarkan film Spiderman: No Way Home. Film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini, akibat penasaran bagaimana nasib Peter setelah rahasianya terbongkar. Begitu juga dengan nasib keluarga dan teman dekatnya (Aunt May, MJ, dan Ned) setelah dunia mengetahui siapa sosok Spiderman.

Banyak juga ya persiapan Marvel Cinematic Universe tahun ini, para penonton MCU dimanjakan hampir setiap bulan dengan munculnya serial dan film Marvel. Makin penasaran tentunya. Penasaran dengan karakter superhero baru, penasaran dengan kisah lanjutan Avengers setelah peristiwa The Blip, pokoknya penasaran semuanya.

Setelah mengetahui superhero pendatang baru yang diperkenalkan tahun ini, apakah MCU merencanakan sesuatu untuk tim Avengers selanjutnya? Apalagi banyak superhero baru dengan umur yang masih sangat muda. Bisa jadi akan ada Young Avengers. Mm bisa jadi yah, cuma teori saya saja. Seru nih kalau MCU membentuk Young Avengers.

Di antara beberapa daftar serial dan film di atas yang paling saya tunggu adalah Loki, Hawkeye, Ms.Marvel, dan Spiderman: No Way Home. Bagaimana dengan kamu? 🙂

Kampung Sutera Sengkang

Menenun dengan cara tennung bola-bola. Foto: Iam Nufa

Suara bising terdengar hampir di setiap rumah panggung ketika memasuki daerah Desa Pakkana. Sebuah suara gesekan kayu dengan kayu yang dihasilkan dari sebuah mesin penenun warga di daerah tersebut. Bunyi sentakan kayu dari mesin tenun itu menghasilkan irama yang terdengar kompak, mengiringi pagi yang cerah. Kesan yang berbeda dan jarang ditemui di desa lainnya. Wajar saja jika dominan suara mesin tradisional tenun yang terdengar, sebab di Desa Pakkana merupakan Kampung Sutra yang menjadi tempat berkumpulnya para penenun Bugis di Sengkang.

Akhirnya rencana menyusuri kawasan kampung sutera ini terwujud juga. Kesempatan pulang kampung saya manfaatkan mengunjungi kampung sutra tersebut. Sudah sejak lama ingin sekali melihat langsung penenun di Kampung Sutra dan baru kesampean April tahun ini. Entah mengapa baru kali ini saya tertarik ingin tahu asal usul dan proses membuat kain sutera. Padahal lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal saya, tetapi baru sekarang saya ingin berkunjung. Saking penasarannya saya mencari tahu dan bertanya pada beberapa teman di mana saja tempat yang perlu dikunjungi untuk mengetahui proses pembuatan kain sutera di Sengkang. Selain mulai tertarik mengetahui pembuatan kain sutra, saya juga merasa malu karena tidak banyak tahu budaya kearifan lokal kampung sendiri.

***

Kampung sutera ini tepatnya berada di Desa Pakkana, Kecamatan Tanasitolo. dan memiliki jarak sekitar 18 km dari rumah saya dan bisa sampai ke lokasi sekitar 30 menit. Walaupun jarak yang dekat, saya baru kali ini ingin mengunjungi desa yang menjadi salah satu khas budaya dari daerah saya sendiri ini. Jika ditempuh dari Kota Makassar akan menghabiskan waktu sekitar 4 – 5 jam.

Kegiatan menenun kain sutra bugis dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu dan merupakan sebuah tradisi turun temurun. Asal usul aktifitas menenun di Wajo ini merupakan hasil kebudayaan globalisasi. Sebuah kreatifitas yang dihasilkan dari bahan-bahan luar seperti China dan Singapura, kemudian dikembangkan secara tradisional oleh orang Bugis menjadi lipa’ sabbe (sarung sutra).

Di Sulawesi khususnya Bugis, Mandar, Makassar dan Toraja memiliki keterikatan yang sulit dipisahkan dalam kehidupan yaitu penggunaan sarung, baik dalam kegiatan resmi maupun sehari-hari. Orang Bugis menyebut sarung dengan lipa’. Mulai dari lahir hingga kematian, orang Bugis tidak terlepas dari sarung. Seperti pada beberapa acara yang menggunakan sarung di antaranya aqiqah (mappenre tojang), pernikahan (mappabotting), dan kematian (attomateng).

***

Lipa’ sabbe atau dikenal dengan sarung sutra menjadi sebuah identitas tersendiri oleh masyarakat Bugis. Sarung sutra bukan sekedar sarung yang dikenakan hanya untuk menutupi badan. Lipa’ sabbe pada zaman dahulu memiliki posisi tersendiri yang dikenakan sebagai bentuk stratifikasi kehidupan sosial dan ekonomi, yang dibedakan menjadi tiga tingkat yaitu arung (bangsawan), to maradeka (rakyat biasa), ata’ (hamba). Sehingga pemakaiannya terbatas bak perhiasan, hanya dikenakan pada saat ritual adat dan juga dikenakan oleh para bangsawan.

Di balik keindahan dari lipa’ sabbe ada para perempuan bugis yang berperan menenun benang sutra hingga menjadi sebuah kain. Dahulu posisi perempuan Bugis dalam menenun menentukan tingkatan nilai seorang perempuan.

Para perempuan dibalik proses tenun kain sutra. Foto: Iam Nufa

“Tania ana’dara Wajo narekko de’nissengi mattennungnge” sebuah peribahasa bugis yang berarti bukanlah gadis Wajo jika tidak tahu caranya menenun. Seperti di Desa Pakkana, seorang penenun yang saya sempat berbincang berkata ia menenun sejak kelas empat SD. Dari kecil hingga sekarang hidupnya didedikasikan untuk menenun dan menghasilkan kain sutra bugis yang indah.

Kegiatan menenun sutra perempuan bugis. Foto: Iam Nufa
Kegiatan menenun sutra perempuan bugis. Foto: Iam Nufa

Di kawasan kampung sutra, para perempuan bugis di sana masih menggunakan alat tenun tradisional yang disebut dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sebuah alat tenun kayu yang dilakukan dengan posisi duduk dan menginjak pedal kayu pada bagian bawah alat. Dalam proses menenun, ada dua cara yang digunakan yaitu tennung walida (menenun dengan gedongan) dan ATBM (Alat tenun bukan mesin). Saat ini, sudah sangat jarang para penenun bugis menggunakan cara tennung walida, yang lebih banyak dikembangkan yaitu ATBM atau disebut juga dengan tennung bola-bola. Proses tennung bola-bola inilah yang saat ini banyak digunakan di Kampung Sutra Desa Pakkana.

Proses menenun dengan menggunakan tennung bola-bola/ ATBM. Foto: Iam Nufa
Dari benang sutra menjadi kain sutra indah dengan panjang 200 m. Foto: Iam Nufa
Susunan benang sutra pada alat tenun. Foto: Iam Nufa

Kain sutra yang ditenun tersebut hingga 200 hingga 500 meter panjangnya dan selesai dalam waktu tiga bulan. Masyarakat bugis dahulu menenun kain sutra hanya untuk memproduksi sarung sutra atau lipa’ sabbe. Berbeda dengan masa modern saat ini, produksi kain sutra sangat luas, bukan hanya sarung saja melainkan bisa menciptakan kreasi baru sesuai selera seperti baju, tas bahkan aksesoris.

Motif dan warna dari kain sutra Sengkang menjadi khas dan identitas yang membedakannya dengan kain tenun sutra lainnya di Nusantara. Beberapa jenis motif di antaranya balo tettong, balo renni, balo makkalu, balo lobang, balo cobo’, balo bombang, balo pucu’. Warna kontras dari kain sutra menjadi gaya khas yang memberi kesan keberanian bak bangsawan bugis dahulu. Motif dan warna dari kain sutra tersebut memiliki makna filosofi dari kehidupan manusia bugis dengan sekitarnya. Saat ini, penenun diberi gambaran untuk motif yang akan dibuat pada kain tenun berupa gambar sketsa model coraknya, kemudian mengikuti sesuai desain tersebut.

Berbagai macam corak dan warna sutra pada toko penjualan kain sutra. Foto: Iam Nufa
Kain sutra bermotif tumbuhan. Foto: Widi
Kain sutra motif tanaman. Foto: Widi

Kampung sutra ini hanyalah kawasan bagi para penenun saja, sedangkan untuk budidaya ulat sutra memiliki tempat yang berbeda. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, kawasan budidaya ulat sutra berada di Kec. Sabbangparu, jarak dari Kampung Sutra ke tempat itu sekitar 10 km. Ketika dalam perjalanan mencari tempat tersebut, kami pun mendapatkan sebuah gapura selamat datang yang bertuliskan “Kawasan Budidaya Ulat Sutera”. Tetapi setelah memasuki daerah itu, tak satu pun terlihat perkebunan murbei dan pengembangan ulat sutra, yang ada hanyalah kebun jagung yang banyak ditemukan. Sempat bingung kenapa tidak ada padahal sudah tertulis di gapura baha kawasan tersebut adalah “Kawasan Budidaya Ulat Sutra”. Beberapa warga di sana pun sempat kami tanya tentang lokasinya tetapi kebanyakan malah kebingungan juga, lebih banyak yang tidak tahu. Alhasil kami pun pulang karena pencarian kawasan budidaya ulat sutra tak kunjung ditemukan. Padahal saya penasaran pengen lihat pengembangbiakan ulat sutra sebelum menjadi kain. Duh.

Setelah saya mencari tahu lagi keberadaan kawasan budidaya ulat sutra tersebut melalui internet, saya mendapati sebuah jurnal yang mengatakan bahwa para petani saat ini tidak sering lagi mengembangbiakkan ulat sutra. Dengan tujuan meningkatkan ekonominya, mereka lebih memilih menanam jagung sebab harganya lebih tinggi dibandingkan jika mengembangbiakkan ulat sutra. Pantas saja tempat yang saya kunjungi waktu itu kebanyakan yang ditemui hanyalah kebun jagung.

Hal ini menjadi masalah bagi para penenun dalam memproduksi kain sutra, eksistensi budaya lokal pun terdampak dan terancam hilang. Budaya lipa’ sabbe yang adalah industri rumah tangga menjadi sulit untuk dipertahankan akibat pergeseran budaya di masa modern saat ini yang mempengaruhi ekonomi dan sosial masyarakat. Semoga budaya menenun kain sutra bugis ini bisa berkembang lagi dan terjaga kearifan lokalnya.

Kenangan Manis Ramadhan Masa Kecil

Alhamdulillah tahun ini masih bisa merasakan kembali ibadah puasa dan shalat tarawih berjamaah di masjid. Perbedaan ramadhan tahun ini adalah shalat tarawih yang dilaksanakan dengan protokol kesehatan berupa jarak satu meter antar jamaah dan memakai masker saat sholat. Bagi saya sendiri memakai masker saat sholat agak aneh dan belum terbiasa. Rasanya pengap memakai masker ketika sholat apalagi dengan jumlah rakaat yang banyak, sampai keringetan. Yah mau bagaimana lagi, pandemi sampai saat ini belum juga usai. Kita masih perlu mematuhi protokol kesehatan dan mengutamakan kesehatan dan keselamatan masing-masing. Stay safe everyone. Sudah masuk malam ke-23 nih, semoga masih kuat puasanya yah. Minggu ini sudah masuk 10 malam terakhir, malam yang istimewa bagi umat muslim di bulan Ramadhan ini.

Sewaktu tarawih di masjid beberapa hari ini, saya selalu mendapatkan beberapa anak berlarian di luar masjid setelah shalat isya. Mereka asyik bermain sambil berteriak yang heboh, sementara orang dewasa sedang mendengarkan ceramah pak ustad. Ada juga anak-anak yang membawa buku amaliyah ramadhan dan sibuk mengisi isi buku tersebut. Melihat suasana itu saya teringat masa Ramadhan sewaktu kecil dulu. Momen yang indah ketika memasuki bulan puasa.

Masa kecil bagi saya adalah salah satu momen yang menyenangkan dan selalu dirindukan. Bersyukur bisa merasakan masa kecil yang menyenangkan dan seru. Berbagai hal bebas dilakukan tanpa pikir panjang, bermain sepuasnya tanpa dibebani pikiran akan kehidupan seperti sekarang. Ah, rindu menjadi anak kecil kembali. Kehidupan saat itu hanya diwarnai tawa, canda, dan aneka jenis permainan yang menemani keseharian bersama teman-teman.

Khusus bulan Ramadhan, walaupun menjalankan puasa agak berat saat itu karena harus menahan lapar dan dahaga seharian. Tetapi vibenya itu loh, rasanya selalu semangat dan excited jika memasuki bulan Ramadhan. Apalagi selama sebulan itu libur sekolah, artinya tidak ada tugas dan waktunya mengumpulkan teman untuk bermain sambil menunggu waktu berbuka puasa. Apalagi ada banyak aneka hidangan saat Ramadhan yang berbeda dengan hari biasa. Makanya saya senang sekali jika ikut ke pasar untuk memanjakan mata dengan banyaknya jenis makanan enak yang dijual, seperti pisang ijo, barongko, jalangkote, sanggara belanda, es buah, kue cantik manis dan masih banyak lagi. Mantap. Kenangan manis itu selalu teringat dan membuat hati bahagia. Ingin rasanya kembali ke masa-masa itu.

Masing-masing orang memiliki momen ramadhan yang berbeda sewaktu kecil. Kalau saya sih ada beberapa kegiatan yang sering sekali dilakukan bersama keluarga dan teman ketika memasuki bulan Ramadhan. Bisa saja semua orang pernah mengalami hal ini juga sewaktu kecil.

Mengisi Buku Amaliyah Ramadhan

buku andalan saat ramadhan, amaliyah ramadhan.

Masih ingat tidak dengan buku ini? Buku ini menjadi salah satu benda yang selalu dibawa-bawa setiap tarawih di masjid. Setiap pak ustad ceramah, saya dan teman-teman akan memasang telinga agar bisa mengetahui judul ceramahnya dan diisi di buku tersebut. Kadang diisi asal-asalan jika tidak mengerti pembahasan ceramah pak ustad, juga sesekali menengok punya teman karena tidak meperhatikan ceramah akibat kebanyakan cerita. Buku ini mengingatkan saya dengan “momen ngartis pak ustad” yaitu rebutan meminta tanda-tangan pak ustad. Rombongan anak-anak berkerumun dan saling dorong hanya untuk mendapatkan tanda tangan. Momen meminta tandatangan pak ustad ini seperti suasana ketika berebutan meminta tanda tangan artis. >.<

Selain itu, ada juga kolom puasa dan salat lima waktu yang harus diisi. Nah yang satu ini kadang saya isinya jujur, kadang juga isinya asal-asalan. Tetapi kebanyakan isinya jujur kok, soalnya saya tipe murid teladan sewaktu sekolah dulu yang datangnya pagi-pagi banget jam 6. Beda pas kuliah kebanyakan nitip absen dan selalu datang terlambat di kelas. Ups!

Acara TV Andalan Keluarga

Saat bulan puasa, sinetron khusus Ramadhan banyak bermunculan di saluran tv. Para Pencari Tuhan, Lorong Waktu, dan Kiamat Sudah Dekat, ketiga sinetron tersebut adalah serial tv yang paling saya tunggu-tunggu saat Ramadhan. Keluarga saya bukan tipe yang suka sinetron di televisi. Tetapi berbeda dengan ketiga sinetron yang dibintangi oleh Deddy Mizwar tersebut. Alur cerita komedi yang apik dengan pesan religi tersebut berhasil menghibur penonton. Di antara ketiga sinetron yang saya sebut tadi, Para Pencari Tuhan-lah yang masih bertahan hingga saat ini. Sudah sampai jilid 14 loh. Lama juga ya. Sekarang ceritanya masih seru dan mengocok perut, kelakuan bang Udin selalu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi saya lebih suka seri Para Pencari Tuhan jilid 1 sampai 10 ketika Bang Jack masih ditemani Trio Bajaj jadi marbot masjid.

Sinetron Lorong Waktu juga seru sekali mengikuti keseruan Pak Haji dan Zidan, mengingatkan saya dengan seri tv BBC Doctor Who dengan petualangan time travel. Cuman untuk Lorong Waktu sendiri, time travel dengan nuansa islami. Pokoknya sinetron Ramadhan yang dibintangi Deddy Mizwar selalu saja seru. Dari SD suka banget nonton sinetron tersebut, aliran komedinya yang berbeda dan kocak sangat menghibur.

Selain sinetron, ada juga Tafsir Al-Mishbah yang selalu ditonton bapak saya ketika sahur, saya pun kadang ikut-ikutan menonton dan mendengarkan sesekali walaupun sedikit mengantuk. Seringkali setelah makan sahur, saya melihat bapak selalu menyediakan buku tulis ditangannya dan menuliskan pesan penting tafsir Al-Qur’an dari acara Pak Quraish Shihab, abi dari Najwa Shihab, bahkan membeli buku-buku Tafsir Al-Mishbah saking sukanya dengan penjelasan dari Pak Quraish Shihab.

Jalan Pagi Setelah Sholat Subuh

Alasan yang bikin semangat untuk pergi salat subuh di masjid adalah janjian jalan pagi bareng teman-teman. Setelah shalat subuh dan berebutan meminta tanda tangan pak ustad, kami pergi jalan pagi menikmati udara segar sambil memakai mukenah. Setelah itu sampai rumah lanjut tidur. Hehe.

Ada banyak aktifitas yang seru yang biasa saya lakukan bersama teman-teman di bulan Ramadhan apalagi bermain sambil menunggu buka puasa. Kerjaan saya dulu selalu main, main dan main. Jam lima sore baru pulang ke rumah untuk berbuka puasa. Indah sekali jika mengingat masa itu, momen nostalgia masa kanak-kanak selalu memberi kebahagiaan tersendiri. Apalagi jika nostalgianya dengan teman sepermainan dulu, pasti ceritanya jadi heboh karena mengingat kelakuan polos semasa kecil.

BUKU-BUKU: Kami (Bukan) Sarjana Kertas – J.S.Khairen

Pertama Kali Menulis Review Buku

Setelah sekian lama direncanakan, akhirnya hari ini bisa menulis blog tentang ulasan buku. Ini pertama kalinya saya menulis ulasan buku di blog ini. Saat mulai blogging Juni 2020 lalu, saya sudah kepikiran ingin menulis review dari buku-buku yang sudah saya baca. Rencana sih akhir tahun 2020 lalu saya pengen menulis blog tentang ulasan buku. Ternyata eh ternyata, rencana itu baru terwujud sekarang. Semoga saja tahun ini saya bisa aktif menulis sesi review buku dan yang paling utama bisa bermanfaat bagi yang membaca. Tulisan mengenai review buku pertama ini saya mulai dengan buku yang ditulis oleh J.S. Khairen yang berjudul “Kami (Bukan) Sarjana Kertas”. Berikut sinopsisnya:

Sinopsis

Di Kampus UDEL, terjebaklah tujuh mahasiswa yang hidup segan kuliah tak mau. Mereka terpaksa kuliah di kampus yang google saja tak dapat mendeteksi. Cobalah sekarang Anda googling “Kampus UDEL”, takkan bertemu!

Alasan mereka masuk UDEL macam_macam. Ada yang otaknya tak mampu masuk negeri, ada yang uang orangtuanya tak cukup masuk swasta unggul, ada pula yang karena… biar kuliah aja.

Hari pertama kuliah, Ibu Lira Estrini-dosen konseling yang masih muda-menggemparkan kelas dengan sebuah kejadian gila, lucu dan tak masuk akal. Ia membawa sekotak piza dan koper berisi tikus. Seisi kelas panik, tapi anehnya, semangat para mahasoswa buangan ini justru terbakar untuk berani bermimpi!

Akankah mereka bertahan di kampus yang amburadul ini? Sekalipun iya, bisakah mereka jadi sarjana yang tidak sekadar di atas kertas?

Review

Pertama kali membaca buku ini tahun 2019, dua tahun yang lalu. Sejujurnya yang membuat saya tertarik membeli buku ini karena desain sampulnya yang lucu dan unik. Apalagi warnanya yang kuning menyala, dan judul yang menarik membuat saya mendekat dan penasaran dengan bukunya. Waktu itu saya lagi butuh novel baru yang bisa saya baca untuk menghibur diri. Saya mencari buku novel dengan cerita yang inspiratif dan bisa membuat semangat muncul lagi. Semester 6 waktu itu lumayan berat dan 2019 lagi banyak pikiran (maap curhat lagi -_-). Setelah menjelajahi beberapa rak buku di gramedia, saya terpaku pada buku yang satu ini. Dari sampul, judul, hingga sinopsisnya terlihat OK, saya pun memutuskan untuk membeli. Berharap cerita novel ini bisa menghibur dari kegalauan.

Menurut saya buku ini cocok dibaca oleh orang-orang yang sedang mengalami mental breakdown, dan ingin mengembalikan lagi semangat dan mendapatkan inspirasi untuk bangkit. Terutama anak muda yang sedang berada pada masa mencari jati diri. Khusus untuk para mahasiswa, buruan deh buku ini dibaca. Kehidupan perkuliahan di sini relate, ada banyak jenis mahasiswa yang diceritakan di buku ini. Mulai dari mahasiwa bodo amat, mahasiswa dengan semangat dan ambisi tinggi, mahasiswa yang bingung setelah kuliah mau apa, mahasiswa yang tiap malam kerjaannya nongki di cafe. Karakter masing-masing mahasiswa yang berbeda tetapi mempunyai satu harapan yaitu sukses.

Membaca buku ini membuat saya sering tertawa dan sesekali terharu dengan ceritanya. Unsur komedi sangat kental apalagi diceritakan dengan bahasa Indonesia umum dan kekinian. Sehingga buku ini sangat ringan untuk dibaca sambil ngopi santai. Percakapan antar tokoh pun sangat informal sebagaimana mahasiswa sekarang, dipenuhi dengan bahasa gaul. Ceritanya pun gak bikin pusing, saat saya membaca buku ini saya sering tertawa akibat tingkah lucu beberapa tokoh yang dinarasikan dalam buku ini. Selain itu, latar tempat diberi nama yang unik, seperti Kampus UDEL dan Kampus UDIN.

Saya juga suka dengan adanya kalimat-kalimat bijak pada setiap bab. Salah satu favorit saya adalah kalimat ini.

“Tiap orang punya kuota untuk gagal. Santailah, jangan tegang dan takut kalau melakukan kesalahan. Orang-orang yang engkau kira keren, hebat, inspiratif, semua pernah gagal lebih banyak daripada jumlah ketakutan yang ada dalam pikiranmu.”

J.S.Khairen

Secara keseluruhan saya suka dengan buku ini, saya dibuat penasaran dengan nasib tujuh mahasiwa dan satu dosen konselingnya di buku selanjutnya. Buku ini memiliki sekuel yang diberi judul “Kami (Bukan) Jongos Berdasi”. Tujuh tokoh mahasiswa ini akan mengalami kehidupan menantang setelah melewati masa kuliah.

Demikianlah review sederhana dan singkat ini. Selamat membaca.

SKRIPSI#2: Cerita Lucu Kolokium 1

Lagi-lagi bercerita tentang skripsi. Progress skripsi mahasiswa semester 10 ini masih dalam usaha menuju Kolokium 2. Terakhir kolokium 1 itu awal Desember lalu, kemudian kembali lagi bimbingan BAB 3 dan BAB 4 yang sampai sekarang belum di ACC. Jujur saya sudah merasa bosan mengerjakan bagian itu-itu terus akibat revisi, revisi, dan revisi. (Sabar Rul, sabar)

Mengenai tugas akhir, di jurusan saya sendiri tahap penyelesaiannya itu sedikit berbeda dengan jurusan lainnya. Kalau untuk jurusan saya, setahu saya sih seperti ini:

Kolokium 1 (Bab 1 & 2) ->  Kolokium 2 (Bab 3 & 4) ->  Ujian Komprehensif -> Studio Akhir  ->  Seminar Hasil -> Ujian Tutup -> Yudisium

Sedangkan untuk jurusan lain biasanya seperti ini:

Seminar Poroposal (Bab 1,2,3) -> Ujian Komprehensif -> Penelitian -> Seminar Hasil -> Ujian Tutup -> Yudisium

Disebutnya pun berbeda. Saya kadang merasa kesulitan jika menjelaskannya kepada teman-teman yang bertanya. Contohnya seperti ini.

“Sampai mana mi, Rul?”

“Alhamdulillah, selesai ma Kolokium 1”

“Apa itu Kalakium?”

“Kolokium dih, bukan Kalakium ahahha. Kolokium itu sama ji dengan Seminar Proposal”

“Oooooh, beda dih.”

“Iye Beda. Prosesnya beda, penderitaanya pun beda. Hahaha.”

Percakapan di atas adalah salah satu contoh ketika teman-teman atau keluarga bertanya soal progress skripsi saya. Bahkan bapak saya saja sampai sekarang selalu salah sebut, Kalakium lah, Kolakium lah. Hahahah. Sebenarnya saya juga tidak tahu menahu alasan pihak jurusan menyebutnya dengan seminar kolokium bukannya seminar proposal seperti jurusan lainnya. Arti kolokium menurut om Google nih guys.

Nah, sedikit cerita nih pelaksanaan Kolokium 1 saya awal Desember 2020 lalu. Akhirnya yang dinanti-nanti seminar pertama ini telah selesai saya lewati. Seminar kolokium ini tentu saja dilaksanakan secara daring melalui zoom. Dihadiri oleh dua dosen pembimbing saya, penguji agama, penguji arsitektur, dan operator. Tegang? Of course, im so nervous. Sehari sebelum seminar, saking tegangnya saya pelajari materi skripsi yang sudah saya kerjakan. Menerka-nerka pertanyaan apa saja yang akan muncul nantinya. Kemudian mencoba mencari jawaban yang tepat. Di pikiran saya sudah terbayang hal-hal negatif. Bagaimana jika besok ada dosen pembimbing atau penguji yang tidak bisa hadir? Bagaimana jika besok penguji melontarkan pertanyaan yang susah dan mengecoh?

Saat tiba hari yang menegangkan bagi saya, seminar kolokium 1. Saya pun mencoba menghubungi dosen-dosen dan alhamdulillah mereka semua join di zoom dan lengkap.

Ada hal lucu saat saya sedang presentasi materi. Sewaktu mengurus kelengkapan berkas untuk seminar kolokium 1 itu saya sudah tidak lagi berada di rumah. Karena saat itu staf jurusan mengatakan kepada saya bahwa untuk pengurusan administrasi sudah tidak bisa online lagi. Hadeuh. Sebab itu saya harus kembali lagi ke kost lalu mengurusnya di kampus. Yah awalnya sih saya berencana seminar di kampung, eh malah kejadian seminar di kost. Untung teman-teman saya sudah ada beberapa orang yang sudah stay. Nah, merekalah yang menjadi tim hore sekaligus panitia ala-ala. Mereka membantu saya banyak hal. Nah, yang lucu adalah mereka kadang tidak sadar menampakkan diri di belakang saya ketika sedang presentasi dan di uji oleh dosen.

  • Penampakan piring dan bunyi sendok saat makan, salah satu teman saya itu lagi makan ketika saya sedang seminar. Ketika makan itu suara antara sendok dan piringnya terdengar, dan tangan sekaligus piringnya juga sempat muncul dalam screen, kaget dong saya. Saya langsung memberi kode pake tangan supaya dia sadar kalau masuk screen. Hahahaha >.<
  • Salah satu teman saya tiba-tiba lewat begitu saja di belakang dan membuka lemarinya. Tambah kaget lah saya. Saya yang awalnya lagi serius mendengarkan dosen berbicara, seketika itu dia lewat lalu berdiri depan lemari, pake lama lagi. Saya mati-matian menahan tawa sembari memasang muka serius di depan dosen. Untuk para dosen yang hadir di seminar saya mohon dimaafkan kelakuan teman saya yang sempat jadi kameo beberapa kali. Hehehe
  • Lighting ala-ala. Setelah hampir sejam seminar dan dosen saya masih berbicara. Tiba-tiba kamar gelap sekali akibat mendung. Otomatis teman saya langsung menyalakan senter handphone mereka. Alhamdulillah ya ada yang nolongin, tapi masalahnya mereka tuh terlalu berlebihan. Dikira konser kali ya, dua senter hp sekaligus langsung mengarah ke wajah saya. Gimana gak kaget tuh mata. Bener-bener kelakukan teman saya ini.

Sejak seminar itu dari awal hingga akhir saya berusaha menahan ketawa saya. Bener-bener teman-teman saya ini gila semua. Awalnya terasa menegangkan jadi agak santai gegara seminarnya ditemani mereka, bikin ngakak terus. Seru juga seminar online hahaha. Kalau disuruh memilih sih, saya lebih memilih seminar online aja dibanding offline. Soalnya kalau offline tuh ribet, belum lagi pengeluarannya banyak banget.

Demikianlah curhatan dan cerita lucu saat seminar kolokium 1. Semoga yang lagi mengerjakan skripsi saat ini dilancarkan ya. Semangat para pejuang skripsi. 🙂 You can do it!

Kembali Lagi!

Sudah tiga bulan lamanya blog ini ditinggalkan, tidak ada update dan cerita baru dari November lalu. Ternyata rindu juga merasakan ketikan-ketikan keyboard ketika membuat tulisan di blog. I miss u blog! Padahal belum genap setahun blog ini dibuat, terpaksa harus hiatus dulu selama 4 bulan lamanya dan tulisan pun masih gitu-gitu aja. Sampai takut melihat blog sendiri haha.

Dari bulan Desember sampai saat ini saya disibukkan dengan satu target. Hal ini yang membuat saya tidak bisa menyempatkan waktu untuk menulis di blog ini lagi. Apalagi kalau bukan skripsi. Maklum penghuni blog ini adalah seorang mahasiswa tua, semester 10 lagi hahahha. Makanya saya harus fokus bisa wisuda tahun ini. (yuk bisa yuk!) Kadang saya tergoda untuk ngeblog lagi, ada banyak ide yang sering muncul dan ingin saya tulis di blog ini. Bahkan sudah saya list ide-ide tersebut sebelum lupa gara-gara revisian wkwk. Tapi saya hilangkan dulu pikiran itu secepatnya. Saya katakan pada diri sendiri “Jangan dulu! Fokus Rul, fokus. Udah semester 10 loh!”

Rencananya sih pengen kembali menulis di blog bulan Februari lalu. Tapi apa daya rencana itu hanya jadi wacana. Belum bisa menyempatkan waktu untuk buka wordpress. Yahh walaupun skripsi belum juga usai, perjuangan masing panjang, tapi saya kepikiran untuk tetap menulis blog sambil ngerjain skripsi juga. Soalnya kalau saya fokusnya cuman di skripsi saja, bisa stress lama-lama.

Teringat saat pertama kali mengenal dunia blogging pada tahun 2017, waktu itu saya hanya memposting tulisan sekali sebulan dan itu karena menulisnya tergantung mood. Bahkan pernah sekali setahun doang, hal itu juga terjadi karena gak tahu sama sekali mau menulis apa. Hahahaha ampun, gak niat banget yah >_< Maka dari itu mengapa saya cepat-cepat kembali menulis di blog ini, supaya kelakuan menunda-nunda terlalu lama itu tidak kejadian lagi. Saya juga sudah janji dengan diri sendiri ketika membuat blog baru ini di wordpress tahun lalu untuk konsisten update tulisan terus. That is why I am back here, to just write.

Saat kembali menulis tulisan ini, sumpah saya kesulitan untuk memulai. Setiap kali mengaktifkan laptop, kemudian membuka wordpress dan menambah post, yang terjadi setelah itu saya terus-terusan bengong. Sesekali mengetik satu dua kalimat kemudian hapus lagi. Gitu aja terus sampai laptop dimatiin lagi. Hahahaha. Ternyata yah, terlalu lama menunda itu efeknya kurang baik. Saya sulit berkonsentrasi dan kehilangan ide.

Akhirnya tulisan ini selesai juga haha. Semoga setelah ini bisa lebih banyak menulis lagi. Walaupun masih newbie dalam dunia blog, apalagi dalam skill menulis, i’ll never stop learning. Bagaimana dengan teman-teman blogger lainnya, apakah kalian pernah rehat sejenak dari blog? Apakah pernah merasa kesulitan ketika memulai kembali? Ayo dong share cerita kalian di komentar, because i do need the support and solution. Hehe.

Potluck ala Tim Youth Café Program

Awal tahun 2020, Makassar masih ramai dan belum lahir yang namanya protokol kesehatan. Waktu itu saya sedang asyik-asyiknya menambah pengalaman di luar kampus dengan mengikuti kegiatan volunteering. Youth Café Program salah satunya. Sebuah tempat sekelompok relawan muda yang fokus dalam pengelolaan sampah berkonsep zero waste pada setiap event yang diselenggarakan. Senang sekali bisa lolos dan gabung bersama tim ini, padahal cuma iseng daftar. Banyak sekali yang bisa saya pelajari, mengenai sampah dan pentingnya menjaga alam.

Beberapa kali kita bertemu dalam tahap perkenalan setiap volunteer dan juga brainstorming program Youth Café Program untuk kedepannya. Sembari ngobrol dan diskusi bersama, manajer umum YCP Kak Fik menginisiatif agar perkumpulan atau meeting selanjutnya diadakan lebih santai tapi tetap serius tanpa merasa tegang. Konsep Potluck. Itulah yang diusulkan oleh Kak Fik.

Potluck? Saya yang volunteer baru, masih mencerna kata potluck yang telah diucapkan oleh Kak Fik. Memang baru pertama kali saya mendengar potluck. Beberapa dari kami teman-teman volunteer juga masih tabu dengan potluck.

“Apa itu potluck kak? Baruka pertama kali dengar ki” salah satu volunteer bertanya dengan aksen Makassarnya.

Setelah mendengar penjelasan kak Fik mengenai potluck. Sontak banyak dari kami langsung berkata “Oooooooo”, sebuah tanda bahwa kami sudah mengerti dan tahu apa itu potluck.

Ternyata guys, potluck itu hampir sama dengan piknik dan family gathering, yakni sebuah acara kumpul santai atau hang out bareng bersama teman ataupun keluarga. Nah yang berbeda dari potluck dengan lainnya yaitu masing-masing peserta wajib membawa makanan dan minumannya sendiri, kemudian dibagi bersama peserta lainnya. Kegiatan ini merupakan salah satu budaya di luar negeri yang ternyata masih tabu dan jarang dilakukan di Indonesia. Makanya saya dan beberapa teman volunteer bertanya-tanya setelah mendengar kata potluck karena memang baru pertama kali dengar.

Fotografer by Nurul Thahirah (Relawan Fotografi YCP)

Seperti yang telah dijelaskan kak Fik, potluck biasa dilakukan di tempat yang sejuk dan ruang terbuka hijau. Sayangnya di Makassar belum banyak fasilitas ruang terbuka hijau yang tersedia dan hanya beberapa yang bisa ditempati untuk kegiatan potluck ini. Opsi yang terpilih yaitu Benteng Rotterdam. Menurut kesepakatan teman-teman, hanya tempat ini yang mendukung kegiatan potluck karena memiliki area dengan rumput hijau yang luas dan bebas dari polusi udara. Sebenarnya sempat khawatir juga ingin potluck di ruang terbuka, karena Makassar saat itu lagi memasuki musim hujan.

Ada beberapa persyaratan ala YCP untuk mengikuti potluck ini. Pertama, harus membawa makanan ataupun minuman lokal tradisional khas daerah masing-masing. Kedua, tentunya dengan sistem zero waste diusahakan menghindari penggunaan kantong atau botol plastik dan kotak makanan berbahan styrofoam.

Fotografer by Nurul Thahirah (Relawan Fotografi YCP)

Minggu sore kami berkumpul di area Benteng Rotterdam dengan makanan dan minuman masing-masing. Setelah semua tim yang sempat datang hari itu berkumpul, kami duduk melingkar dan menjelaskan masing-masing makanan dan minuman tradisional yang dibawa secara bergiliran. Banyak sekali macam makanan tradisional yang terkumpul, ada yang membawa roko-roko unti’, jalangkote, kasippi, apang, baroncong, songkolo, barongko, cangkuneng, dan es buah. Dominan makanan yang dibawa yakni khas Bugis Makassar, sebab rata-rata dari kami asli Bugis Makassar. Saya sendiri yang asli Bugis Wajo membawa doko- doko cangkuneng yaitu makanan tradisional Bugis yang berbentuk segitiga dibungkus daun pisang. Rencananya sih pengen membawa bandang, tapi karena tinggal seorang diri di kost mana sempat bikin dan juga lumayan ribet. Kalau di kampung mudah ditemukan, apalagi nenek saya sering buat sendiri. Makanya saya cuman beli cangkuneng di warung khusus kue tradisional yang biasa jualan di pinggiran jalan.

Fotografer by Nurul Thahirah (Relawan Fotografi YCP)

Tibalah hari yang ditunggu! Pada sore hari ditemani suasana sejuk dan rindang di Benteng Rotterdam, kami berbagi kisah tentang makanan yang dibawa dan menceritakan usaha kami mencoba untuk mengurangi penggunaan plastik. Saya masih ingat ada cerita lucu salah satu anggota YCP namanya Adit, usahanya ingin ber­-zero waste membuat ia sampai bercekcok dengan mamanya gegara tupperware yang ia pakai. Tau lah ya ibu-ibu agak sensitif kalau tupperwarenya hilang. Saya pun waktu itu memakai tupperware yang ditaruh ibu saya di kost-an, alhamdulillah saya bersyukur ibu saya tidak termasuk kategori ibu-ibu yang terobsesi dengan tupperware wkwkwk.

Untuk menerapkan zero waste 100% tentunya sangat sulit, pastinya butuh waktu yang lama bisa menerapkan ini dalam kehidupan sehari-hari. Pada potluck sesi Rotterdam ini saja, beberapa anggota YCP ada yang terpaksa memakai kantongan plastik dan styrofoam karena baru sempat beli setelah pulang kerja. Sehingga tidak sempat memakai tempat bekalnya sendiri. Ya namanya juga usaha, setiap orang punya cara masing-masing untuk bisa terus menerapkan konsep zero waste ini.

Walaupun begitu, potluck dilakukan dengan seru dan asyik. Bagaimana tidak, kita bisa rapat membahas hal-hal serius tapi tidak dengan suasana yang tegang dan tidak lupa ketawa-ketiwi. Untungnya sore itu tidak hujan, sehingga potluck berjalan lancar dan nikmat. Sambil icip-icip berbagai makanan tradisional Indonesia, meeting tetap berjalan ditemani suasana Rotterdam yang sejuk dan lalu lalang pengunjung yang mengeliligi museum bersejarah ini.  Ada pengunjung dari luar negeri juga yang melirik dan terlihat penasaran dengan potluck kami sore itu. Pengen menawarkan makanan ke mereka tapi karena dengar berita korona yang lagi heboh di China membuat niat kami untuk berbagi diurungkan. Hahaha

Saking banyaknya jenis makanan, lumayan banyak juga yang tersisa. Hal ini terjadi karena sebagian dari kita baru pertama kali melakukannya. Sehingga kita tidak bisa memperkirakan berapa porsi yang akan dibawa, menyebabkan banyak makanan yang tersisa. Makanya sebelum berpisah, kita bagi sama rata untuk teman-teman volunteer untuk bawa pulang dan dimakan di rumah supaya tidak mubazzir. Belajar dari potluck pertama ini, selanjutnya tidak perlu membawa banyak-banyak dan bawa secukupnya saja.

Fotografer by Fikri Yathir (Manajer Umum YCP)

Menurutku, potluck ala YCP ini sangat unik karena tidak melupakan cita rasa lokal yang diselingi usaha untuk menerapkan zero waste di lingkungan sekitar tanpa paksaan. Saya sangat bersyukur bisa diberi kesempatan berteman dengan sesama anak-anak muda yang mengisi waktunya dengan melakukan kegiatan positif seperti ini. Berkat kegiatan ini saya lebih sadar betapa pentingnya untuk mencintai alam dan punya rasa tanggung jawab terhadap produksi sampah yang dihasilkan oleh diri sendiri. Saya sampai sakarang masih berusaha pelan-pelan dan belum bisa menerapkannya secara menyeluruh, sebab terpengaruh dengan lingkungan sekitar yang tidak terbiasa akan hal itu.

Semoga setelah pandemi berlalu, tim Youth Café Program bisa reuni kembali dan melanjutkan program yang belum tuntas. Sekian cerita pengalaman potluck saya bersama tim Youth Café Program, sangat senang bisa mengenal orang-orang hebat ini. Tambah senang lagi jika yang membaca ini bisa berbagi pengalaman juga mengenai potluck versi kalian, kolom komentar tentunya selalu tersedia. Ditunggu ya! Thank You!

SUKA DUKA SKRIPSIAN #1 : Gegara Corona

Skripsi.

Mendengar kata yang satu ini bagaikan sebuah kata meneyeramkan dalam kehidupan mahasiswa. Setiap kali saya ke kampus dan memperhatikan gerak-gerik senior yang sedang sibuk dengan skripsinya, sebagian yang saya temui terlihat stress dan tertekan. Saya pun yang masih semester lima waktu itu dibuat tegang, apalagi ditambah dengan berbagai desas desus senior bahwa tahap skripsi yang paling menantang dan paling melatih mental. Tambah teganglah saya, padahal waktu itu belum berada pada proses skripsi. Dasar lemah! Belum apa-apa tangan udah dingin. Hahaha.

7 bulan yang lalu saya menyelesaikan program KKN dan tibalah saya di tahap skripsi ini. Kali ini kehidupan kampus terasa berbeda dari sebelumnya, gegara kasus pandemi global tahun ini yaitu virus Covid-19. Situasi pandemi tahun ini yang tidak disangka-sangka muncul menyerang seluruh dunia dan mengubah pola hidup manusia. Salah satu yang kena imbasnya adalah mahasiswa akhir.

Mulai dari proses administrasi, bimbingan, seminar proposal dan hasil dilakukan secara daring. Everything is online! Sebagai salah satu mahasiswa akhir di Indonesia yang lagi berada pada tahap ini, merasakan banyak pengalaman tak terduga baik itu suka maupun duka selama skripsian di rumah aja.

Jika ditanya apa kelebihan dan kekurangan skripsian selama pandemi yang serba online ini. Masing-masing punya perspektif yang berbeda-beda. Ada yang merasa lebih suka dengan sistem daring, ada juga yang merasa dirugikan. Menurut saya pribadi ada beberapa kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan. Maka dari itu, saya ingin mencurahkannya lewat tulisan ini. Nah, saya pengen membahas pengalaman yang tidak menyenangkan terlebih dahulu.

Sebelum saya berangkat KKN awal Maret lalu saya sudah merencanakan untuk mengajukan judul terlebih dahulu dan berharap segera di ACC sebelum berangkat KKN supaya proses skripsi saya bisa berjalan dengan lancar. Ternyata di jurusan saya itu terdapat peraturan kalau mahasiswa belum bisa mengajukan judul jika belum selesai KKN. Padahal kebanyakan teman-teman saya dari jurusan lain malahan bisa mengajukan judul walau belum KKN. Kecewalah diri ini. Rencana skripsian sambil KKN pun gagal.

Pada pertengahan maret virus corona di Indonesia juga udah mulai berkoar-koar dan bikin panik, apalagi saya dan teman-teman yang sedang ber-KKN di kampung orang. Akhirnya pihak kampus memutuskan untuk memulangkan mahasiswa secepatnya. Disinilah awal mula drama skripsian dimulai. Sepulang KKN itu saya pun mengajukan judul, proposal dan pembimbing dan tentunya mengikuti prosedur secara online yang telah disusun oleh jurusan. Jujur! Saya merasa sulit sekali padahal masih tahap awal. Kesulitan berada pada pengurusan administrasi, sistem daring ini malah membuat proses administrasi ke jurusan sangat lambat. Saya bahkan mengurus judul saja sampai berbulan-bulan dari April sampai Juli cuy. Ini bukan karena malas ya. Whatsapp saya jarang banget di balas sama dosen, dikacangin mulu bahkan dibaca saja jarang. Gimana gak pusing coba. Di respon pun harus nunggu sampai satu bulan. Pengen ke kampus juga tidak bisa karena si corona. Bedanya saat kuliah langsung bisa bolak-balik ke kampus urus surat dan lain-lain. Betul-betul kesabaran saya terlatih tahun ini.

Setelah berbulan-bulan bersabar menunggu, saya pun mulai bisa bimbingan dan alhamdulillah dapat dosen pembimbing yang baik. Setelah melewati drama administrasi yang buat down, kesabaran saya terbayarkan karena dapat dosen pembimbing yang bagus. Bagus bukan berarti dosen pembimbingya kurang peduli ya. Dosen pembimbing saya ini senantiasa memberi masukan dan ilmu baru untuk saya dalam mengerjakan skripsi. Penelitian saya itu “Creative Hub di Kabupaten Wajo dengan Pendekatan Arsitektur Nusantara“. Nah, saya sengaja mengambil penelitian ini karena memang akhir-akhir ini tertarik mendalami materi arsitektur nusantara. Untungnya dosen pembimbing saya ini sangat mendukung dan membantu saya memperluas wawasan tentang penelitian ini. Berbagai informasi dari beberapa sumber mulai dari buku, website, juga webinar tentang arsitektur nusantara ia bagikan ke saya. Saya bahkan di ajari menggunakan mendeley dan tips dan trik menulis skripsi di word tanpa ribet (Haduh bodo kali! maaf emang saya baru tahu soal mendeley dan ngetik pake aturan heading, selama ini ngetik cuma secara manual ahahha). Terima kasih bu sudah ngajarin akhirnya saya bisa mengetik tanpa ribet bolak-balik halaman. Hal ini berbeda seperti yang teman-teman saya ceritain, sebab sebagian dari mereka yang lebih duluan bimbingan dapatnya dosen pembimbing yang galak, serius bikin tegang, moody, juga ada yang cuek. Alhamdulillah saya tidak seperti itu. Semoga saja dosen pembimbing saya akan terus seperti itu sampai saya selesai skripsinya dan tidak bikin mood dan semangat saya anjlok. Aamiin Ya Allah

Demikian pengalaman suka duka yang saya lewati sampai saat ini mengenai proses skripsi di masa pandemi. Semoga kalian yang juga lagi berjuang skripsian online dimudahkan dan dilancarkan prosesnya. Jika kalian punya pengalaman skripsian yang pengen diceritain. Kolom komentar sudah tersedia dibawah. Senang sekali jika bisa mendengar cerita skripsian kalian di kolom komentar.

Review TV-Series: Stargirl. Young Superhero

Someone with honor and strength must carry the torch.

Starman

Cerita diawali dengan flashback 10 tahun lalu ketika Starman mengatakan sebuah permintaan kepada teman dekatnya (sidekick) setelah pertempuran terakhir Justice Society of America dengan Injustice Society.

Setelah beberapa waktu lalu diumumkan bahwa season 6 akan jadi season terakhir bagi Supergirl. Timing yang sangat pas, kini CW  sudah menyediakan tontonan seri baru dengan superhero perempuan sebagai pengganti Supergirl.

Stargirl. Kali ini DC Universe dan CW mengeluarkan drama seri remaja yang dibintangi oleh Brec Bassinger dan Luke Wilson. Yang diangkat dari sebuah komik yang diciptakan oleh Geoff Johns.  Berbeda dengan seri superhero sebelumnya yang lebih dewasa seperti The Flash, Supergirl dan Arrow ,  Stargirl terbilang masih muda dan lebih cerah.

Berkisah tentang seorang gadis remaja bernama Courtney Whitmore yang berpindah dari Los Angeles ke sebuah kota kecil yang indah di Blue Valley, Nebraska.  Blue Valley menjadi tempatnya memulai kehidupan baru dengan keberadaan keluarga barunya yaitu ayah dan saudara tiri, teman baru, dan petualangan baru yang menanti. Bagaimanapun ia tidak suka, ia terpaksa harus bisa berbaur dengan keadaan sekitarnya.  Seperti cerita superhero pada umumnya, Courtney yang awalnya hanya seorang remaja SMA biasa yang dipikirannya masih dipenuhi dengan hal yang sering anak remaja inginkan. Kehidupannya berubah setelah menetap di Blue Valley. Courtney menghadapi masalah remaja pada umumnya yaitu berteman di lingkungan baru, menghadapi pembully, dan menyesuaikan diri dengan dinamika keluarga baru, apalagi ditambah dengan saudara tiri yang kelakuannya aneh.

Setelah melewati beberapa episode pertama, adegan memperlihatkan kegembiraan dan ketertarikan yang dirasakan Courtney setelah menemukan kekuatannya, membuat kostumnya sendiri, dan menguji kemampuan nya dengan cosmic staff yang ia miliki. Adegan-adegan awal yang sangat seru dan segar untuk ditonton bagi saya. Apalagi diiringi dengan musik pop yang keren dan bikin semangat. Wonderful! Selama ini, DC dan CW selalu menyuguhkan kisah pahlawan supernya yang cerita si karakter fokus pada beratnya ia dikaruniai kekuatan dan menjadi pahlawan. Misalnya Barry Allen (The Flash) yang selalu khawatir akan bahaya yang timbul bagi keluarga dan temannya akibat identitas rahasianya, sulitnya menyembunyikan jati diri dari orang sekitar dan merasa tertekan.

Berbanding terbalik dengan Stargirl, mungkin karena ia masih muda (coming of age) disini Courtney selalu tersenyum. Saking senangnya menjadi seorang pahlawan super, ia tidak ingin diam sedetik pun menyia-nyiakan waktu tanpa memanfaatkan cosmic staff nya. Bertindak sendiri dan berani tanpa tahu bahaya terhadap orang-orang terdekatnya. Identitas rahasianya membuatnya dekat dengan ayah tirinya. Bagi Courtney, menjadi pahlawan adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya serasa mendapat sebuah hadiah atau sesuatu yang menakjubkan.

Film ini menampilkan koreografi pertarungan yang apik dengan efek sinematografi yang keren. Seri ini bahkan mengambil nuansa nostalgia yaitu tampilan setting waktu dan tempat terinspirasi dari kehidupan klasik tahun 1980-an. Uhh i love the 80s vibes. Di seri ini kita bisa melihat gaya pakaian modis ala tahun 80-an bahkan juga ditemani dengan mobil-mobil vintage.

Selain nuansa 80-an, musik yang mengiringi setiap adegan juga sangat keren dan mampu menciptakan suasana hati. Dan yang paling saya sukai yaitu seri ini menampilkan cerita yang tidak kaku, dimana petualangan tidak hanya berbahaya tapi juga lucu. Percaya deh, pas menit pertama saja saya udah ngakak padahal adegannya lagi sekarat. Komedi dalam film superhero seperti ini adalah sesuatu yang paling dirindukan penonton seperti halnya film-film Marvel yang dipenuhi adegan pertarungan dengan komedi. Membuat kita yang nonton jadi tegang-tegang gemes gitu loh. Thank you Stargirl! You really made my day.

Dan satu lagi, sebuah fakta terciptanya karakter Courtney Whitmore ini dibuat Geoff Johns sebagai dedikasi untuk saudara perempuannya Courtney Elizabeth Johns yang menjadi korban dalam sebuah kecelakaan pesawat tahun 1996.

Untuk para orang tua, anak-anak dari umur 12 tahun ke atas bisa nonton seri ini. Kalian bisa melihat trailernya di bawah ini:


Pemeran: Brec Bassinger, Yvette Monreal, Anjelika Washington, Cameron Gellman, Trae Romano, Jake Austin Walker, Hunter Sansone, Meg DeLacy, Neil Jackson, Christopher James Baker with Amy Smart and Luke Wilson.